Di sebuah kampung kumuh ada seorang anak yatim yang cerdas dan baru lulus sekolah dasar. Ia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke SMP, tetapi tidak memiliki biaya. Lalu ia kirim surat kepada Tuhan mohon kiriman uang Rp. 100.000,- untuk melanjutkan sekolah. Surat tersebut dikirimkannya melalui Kantor Pos, namun Pak Pos kebingungan mendapatkan surat yang ditujukan kepada Tuhan tersebut. Karena tidak tau harus ditujukan kemana, Pak Pos akhirnya mengantarkan ke kantor Polisi terdekat.

Satu regu Sersan Muda Polisi yang sedang berjaga merasa tertarik untuk membukanya. Setelah membacanya, mereka sangat iba dengan keadaan anak yatim yang malang tersebut. Kemudian mereka secara patungan mengumpulkan uang dan terkumpul Rp.70.000,-. Karena alamat anak yatim ini jelas tertera pada amplop surat, maka dua orang polisi mengantarkannya sambil berpatroli. Tentu saja anak yatim ini menyambut dengan suka cita dan berkali-kali menciumi amplop surat yang diyakininya merupakan balasan dari Tuhan dan berterimakasih kepada Polisi yang telah mengantarkannya.

Begitu dua orang polisi tersebut pulang, langsung dibukanya surat dari Tuhan itu. Namun betapa kecewanya anak yatim ini, lalu merajuk pada Tuhan. Dengan nada sedih anak yatim ini berkata : “Tuhan, aku berterimakasih karena Tuhan memperhatikan suratku. Tapi aku mohon, lain kali kalau mengirim uang jangan melalui Pak Polisi, karena mereka telah menilep uangku, sehingga uang yang sampai padaku hanya Rp.70.000,-“.